Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Perlu diketahui, autisme atau gangguan spektrum autisme (ASD) adalah masalah perkembangan yang memengaruhi cara belajar, berperilaku dan cara berkomunikasi serta berinteraksi seseorang dengan orang lain. Gangguan autisme ini bisa berlangsung seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan.

Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui informasi seputar autisme sedini mungkin. Dengan demikian, mereka bisa melakukan upaya terbaik jika anaknya mengalami autisme ini.

Baca juga: Punya Anak Hiperaktif, Ini Terapi di Rumah agar Bisa Lebih Tenang

Melansir dari Halodoc, Selasa (4/4/2023), gejala dan ciri-ciri autisme dapat muncul pertama kali pada masa kanak-kanak. Tak banyak orang tua yang menyadari tanda dan gejalanya, hingga sang anak memperlihatkan tanda-tanda keterlambatan perkembangan.

Umumnya, tanda-tanda awal autisme dideteksi melalui tonggak perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada usia tertentu. Misalnya, mengoceh pada usia empat bulan dan dapat menggunakan kalimat sederhana pada usia dua tahun.

Apabila seorang anak tidak mencapai tonggak ini atau tidak mengembangkan keterampilan sama sekali, hal ini dapat mengindikasikan autisme. Nah, berikut ini ciri-ciri autisme lainnya:

Masalah keterampilan sosial

Ciri-ciri anak autis yang mudah ibu kenali adalah mereka terlihat asyik dengan dunianya sendiri, dan sulit untuk terhubung dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Mereka juga kesulitan dalam melakukan kontak mata serta sulit memahami emosi seperti rasa sakit, sedih, atau perasaan orang lain.

Masalah keterampilan sosial ini biasanya muncul saat anak menginjak usia 8-10 bulan. Ciri-cirinya dapat berupa:

1. Tidak menanggapi nama saat dipanggil

2. Tidak tertarik untuk bermain, berbagi, atau berbicara dengan orang lain

3. Lebih suka menyendiri.

4. Menghindari atau menolak kontak fisik, termasuk berpelukan.

5. Menghindari kontak mata.

6. Saat marah, anak tidak suka dihibur.

7. Tidak memahami emosi mereka sendiri atau orang lain.

8. Tidak merentangkan tangan untuk digendong atau dipandu dengan berjalan.

Masalah komunikasi

Sekitar 40 persen anak yang mengalami autisme tidak berbicara sama sekali. Sementara itu 25-30 persen lainnya mengembangkan beberapa keterampilan bahasa selama masa bayi, tetapi kemudian kehilangan kemampuan bicara di kemudian hari. Anak ini biasanya memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain termasuk dalam memahami pembicaraan, membaca, dan juga menulis.

Selain itu juga, mereka memiliki kesulitan dalam memulai percakapan, memahami perkataan dan mengikuti petunjuk. Masalah komunikasi lainnya yaitu:

1. Keterlambatan berbicara dan keterampilan bahasa.

2. Mengeluarkan suara datar, suara robot, atau suara nyanyian.

3. Echolalia atau suka mengulang kalimat yang sama berulang-ulang.

4. Masalah dengan kata ganti, misalnya, mengatakan ”kamu” alih-alih ”aku”.

5. Tidak menggunakan atau jarang menggunakan gerakan umum (menunjuk atau melambaikan tangan) dan tidak menanggapinya.

6. Ketidakmampuan untuk fokus pada satu topik saat berbicara atau menjawab pertanyaan.7. Tidak mengenali sarkasme atau bercanda.8. Kesulitan mengekspresikan kebutuhan dan emosi.9. Tidak mendapatkan sinyal dari bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi.Masalah perilakuAnak yang memiliki autisme juga bertindak dengan cara yang tidak biasa atau memiliki minat yang tidak biasa, seperti:1. Perilaku berulang seperti mengepakkan tangan, mengayun, melompat, atau memutar-mutar.2. Gerakan konstan (berlari) dan perilaku “hyper” atau berlebihan.3. Rutinitas atau ritual tertentu dan menjadi kesal ketika rutinitas diubah.4. Sangat sensitif terhadap sentuhan, cahaya, dan suara5. Tidak mampu meniru perilaku orang lain6. Kurangnya koordinasi atau canggung.7. Impulsif atau bertindak tanpa berpikir.8. Perilaku agresif, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.9. Rentang perhatian yang pendek.Cara Membedakan Anak Autis dengan Anak yang NormalMelansir dari Healthy Children, berikut adalah beberapa contoh yang dapat membantu orang tua dalam membedakan antara perilaku normal yang sesuai dengan usia dan tanda-tanda awal autisme:1. Pada usia 12 bulanAnak yang sudah mencapai usia 12 bulan umumnya akan menoleh ketika mendengar namanya. Namun, pada anak yang mengalami autis, mereka tidak menoleh bahkan setelah namanya diulang beberapa kali. Alih-alih menanggapi panggilan, anak yang mengalami autis justru merespons suara lain.2. Pada usia 18 bulanPada anak yang mengalami keterlambatan bicara, biasanya akan menunjuk, memberi isyarat atau menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan maksudnya. Sementara, pada anak yang mengalami autisme, mereka tidak akan berusaha untuk memberikan isyarat apa pun.3. Pada usia 24 bulanDi usia ini, anak biasanya mampu menunjukan gambar atau menunjukan hal-hal menyenangkan lainnya pada orang tua untuk membagi kegembiraan mereka dengannya. Sedangkan pada anak autis, mereka mungkin tidak menunjukkan kegembiraan ketika bermain bersama.Apa Penyebab Gangguan Spektrum Autisme?Penyebab autis tidak diketahui secara pasti. Namun, penelitian telah menemukan beberapa faktor, seperti faktor genetika (keturunan) dari orang tua. Selain itu, bisa terjadi karena faktor lingkungan yang mungkin berperan sebagai penyebab autis.Faktor risiko lainnya adalah hamil di usia tua, bayi dengan berat badan lahir rendah, ketidakseimbangan metabolisme, paparan logam berat dan racun lingkungan , riwayat ibu dengan infeksi virus dan paparan obat asam valproat atau thalidomide.Ada yang menganggap autis memiliki hubungan dengan vaksin tertentu pada anak, khususnya campak-gondok-campak Jerman (MMR). Namun, dari hasil penelitian menjelaskan jika tidak ada hasil yang dapat menunjukkan hubungan antara autis dengan vaksin MMR.

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler