Sabtu, 25 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, KudusBakteri Escherichia Coli (E.Coli) selama ini kerap dikaitkan dengan kasus keracunan makanan. Namun di balik itu, bakteri ini sebenarnya merupakan mikroorganisme yang secara alami hidup di dalam tubuh manusia, tepatnya di saluran pencernaan.

Secara ilmiah, E.Coli dikenal sebagai bakteri gram negatif atau berwarna merah muda (setelah pengecatan gram tertentu) dan berbentuk batang (basil). Bakteri ini berperan dalam membantu proses pencernaan, khususnya dalam penguraian sisa makanan di dalam tubuh.

Dosen Mikrobiologi Universitas Muhammadiyah Kudus Yunita Rusidah menjelaskan, E.Coli termasuk flora normal usus yang memiliki fungsi penting dalam sistem pencernaan.

”Di usus kita memang ada bakteri, salah satunya E.Coli. Itu membantu proses pembusukan sisa makanan agar bisa dikeluarkan dari tubuh,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Meski memiliki fungsi alami, keberadaan E.Coli bisa menjadi masalah ketika jumlahnya tidak seimbang atau ketika bakteri tersebut masuk dari luar tubuh melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Dalam kondisi tersebut, E.Coli dapat mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan penyakit seperti diare. Bahkan, beberapa jenis atau strain tertentu mampu menghasilkan racun, seperti shiga toxin yang dapat memicu infeksi usus lebih berat.

”Kalau berasal dari luar dan masuk lewat makanan atau air yang tidak bersih, itu yang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Ketua Tim Bidang Kesehatan Lingkungan (KKO) Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Budiarto menambahkan, E.Coli kerap digunakan sebagai indikator pencemaran, terutama yang berasal dari limbah atau sanitasi yang buruk.

Berkembang Biak Sangat Cepat... 

  • 1
  • 2
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler